Kira-kira beginilah pikiran saya tentang UU Porno(grafi)

•Jumat, 21 Nopember 2008 • Tinggalkan sebuah Komentar

UU Porno(grafi). Mengapa ada dalam kurungnya? simpel saja, karena bagi saya, UU itu isinya dibuat oleh orang-orang yang isi kepalanya PORNO. Contohnya, bagaimana seseorang bisa menganggap sesuatu “terkesan telanjang” kalau ia tidak membayangkan hal tersebut telanjang. Misalnya, jika saya melihat seseorang dibalik layar putih yang tersorot lampu sehingga melihatkan bayangan lekuk tubuhnya. Jika saya tidak membayangkan ia sedang telanjang, saya tidak akan berpikir bahwa bayangan itu mengesankan ia telanjang. Lalu, UU ini berat ke perempuan (hal ini mengingat kultur mayoritas masyarakat Indonesia yang patriarkis dan sangat tendensius). Contohnya, saat melihat seorang laki-laki bertelanjang dada, mayoritas masyarakat menganggap wajar dan tidak menganggap itu mengesankan ketelanjangan. Akan tetapi jika perempuan menggunakan tanktop, maka banyak yang menganggap ia terlalu seksi dan terlalu vulgar. Bahkan menganggapnya “telanjang” (contohnya ibu saya yang melihat aktris hollywood berbikini berkomentar “duh, kok cewek-cewek sekarang bangga ya telanjang”). Untuk lebih memperjelas sikap saya tentang UU Pornografi, berikut saya sertakan tulisan teman saya yang pikirannya sama dengan saya:

By The Way: Porn bill fuel for a modern-day witch hunt

Annisa R. Beta ,  The Jakarta Post ,  Jakarta   |  Sun, 11/16/2008   |  Headlines

Reading the great play The Crucible by Arthur Miller in my American literature and culture class, I couldn’t help but wonder, are we still witch-hunting? My first response is, no way, dude.
Witch-hunting is so way behind us, isn’t it? It’s time for the Internet, e-mails, Facebook and online news.
We’re logical people. We’re modern, or maybe even postmodern. We are humans who have had evolution, and even revolution, for most part of our lives. We are green lovers, we are peacemakers and we are problem solvers.
But wait, have we really passed the witch-hunting era? Have we really passed the tragic phenomenon in 17th century Salem, Massachusetts?
Have we no trace of the tragedy that in essence is about finger-pointing, false witness, mass hysteria, jealousy, hatred and superstition? The tragedy which so easily define black and white, right and wrong?
I am now staying in the country where it all happens, and I would say, quite assuredly, that we, as human beings, have never really lost that trace of the Salem witch hunt, even if we don’t even know what the tragedy was really about.
They’re always in us because that’s how we were taught to live, and survive.
I honestly would say that I have always had the essence of that tragedy in my daily life. I’ll finger point when I feel I’m cornered.
I keep my hatred and jealousy for someone, let it out by saying something bad about him or her to my close friends, when I know that I’m spreading negativity.
I’m devilish? If you think I am, that’s just clear evidence that we are raised to easily point at the devil, which sounds so much like what happened in Salem more than 300 years ago.
We’re Indonesian, but surprisingly we might inherit some of the Puritans’ characteristics that initiated The Salem Tragedy, even if we are living so far away from the historical context.
Here’s some evidence: We can’t stop believing that bad children learn from bad parents, can we? We won’t agree that woman can lead the country. We see freedom of religion as something sinful and hellish, that we have to ban any belief that we consider unfathomable. Even some of us, especially those in high positions, cannot take the responsibility of planned “mistakes”, that we have to accuse other people. And we can’t handle the long-repressed greed, so we have to tackle anybody who gets in our way. The freshest example that we witness together now is the passing of the porn bill.
Now, let’s compare.
The Salem Witch Trial objectified women as witches just because their jealous and voracious neighbors pointed out that they saw something suspicious or smelled something fishy.
At that time, neighbors could say, “I heard that woman singing, and suddenly I felt my body ache. She’ a witch!” People could make up stories and improper accusation in a snap, and the court would make what was actually false witness as the basis of a witch trial.
Now, with the porn bill, any women can be objectified by any horny toad or nasty gossiper who would love to point the finger at ladies they resent or envy.
And now it’s not impossible to hear rapists saying, “It’s a woman’s fault for making me horny, the way she dresses and the way she moves turns me on! So don’t blame me for being a man, and do what any real man would do to this strumpet: Rape her!”
It’s possible to see the man walking free, while the woman has to suffer accusations. Now the woman is a witch because she has created a provocative atmosphere. Ah, Indonesian and Salem people are not so different, are they?
So, let’s not be surprised when a tragic phenomenon happens in our country. Maybe, we can simply say, “Let’s go witch-hunting!”

— Annisa R. Beta

(Dikutip dari http://justannisa.multiply.com/journal/item/37/By_The_Way_Porn_bill_fuel_for_a_modern-day_witch_hunt)


Siapa yang Beradab?

•Sabtu, 13 September 2008 • 2 Komentar

Rabu malam yang lalu, sebuah acara debat di televisi membahas tentang RUU APP yang menghadirkan anggota PANSUS RUU APP anti dengan RUU APP yang sedang digodok sekarang dan Anggota DPR serta ORMAS Islam yang pro dengan RUU yang sekarang. Beberapa saat kemudian, perdebatan memanas dan kubu yang anti-RUU APP mengatakan bahwa RUU yang sedang digodok sekarang ini akan mengkategorikan orang Papua sebagai pelaku pornografi dan bisa dikenakan sanksi. Sedangkan pembelaan dari kubu yang pro dengan RUU APP berkata, dengan bahwa seharusnya ‘kita’ membawa peradaban dan memberikan mereka baju. Dalam benak saya kemudian timbul pertanyaan, “Apakah memang orang Papua tidak beradab?” Kemudian, segera saja, jawaban yang sangat sederhana muncul, “Mereka adalah orang yang beradab”. Lanjutkan membaca ‘Siapa yang Beradab?’

Cacar, Puasa, FPI

•Selasa, 9 September 2008 • Tinggalkan sebuah Komentar

Sejak puasa hari ke dua, saya terkena cacar air. Oleh karena itu, terpaksa saya harus membatalkan puasa atas saran dokter karena obat yang saya minum harus lima kali sehari dan teratur setiap empat jam. Saat itu saya berobat ke dokter di klinik di kampus saya, UI. Karena obat yang saya minum harus setelah makan, maka saya segera mencari makan. Tetapi, ternyata kantin terdekat (kantin FKM)tutup. Kemudian, saya mencari makanan di FASILKOM, ternyata kantinnya juga tutup. Akhirnya saya ke FIB, dan untungnya kantin FIB buka sehingga saya bisa makan siang dan minum obat. Dari pengalaman saya ini, saya teringat dengan penutupan paksa warung-warung makan yang buka siang hari di beberapa tempat. Dalam kepala saya, saya berkata “Ternyata, sangat banyak orang picik dan egois yang mengatasnamakan agama yang saya hormati”. Orang-orang picik itu adalah mereka yang merusak dan merazia tempat makan yang buka saat puasa. Lanjutkan membaca ‘Cacar, Puasa, FPI’

Dua sisi listrik tanpa kabel

•Selasa, 26 Agustus 2008 • 2 Komentar

Dalam Koran Tempo tanggal 25 Agustus 2008, terdapat sebuah artikel yang menarik tentang listrik tanpa kabel. Dalam artikel tersebut, dijelaskan bahwa perkembangan teknologi terbaru telah memungkinkan perlengkapan listrik dapat menyala tanpa menggunakan kabel. Hal ini bisa dilakukan menggunakan bukan tanpa listrik, akan tetapi listrik tidak melalui kabel, melainkan melompat dari kumparan yang akan menghasilkan medan elektromagnet yang berfungsi sebagai pemancar. Kemudian, dari kumparan pemancar tersebut akan memancarkan frekwensi tertentu yang kemudian akan beresonansi dengan kumparan penerima. melalui resonansi tersebutlah listrik melompat dari kumparan pemancar ke kumparan penerima. Meskipun sudah pernah diujicobakan, teknologi ini belum bisa diaplikasikan karena masih membutuhkan lebih banyak penelitian. Jika sudah diaplikasikan, maka perangkat-perangkat elektronik bisa sangat mobile karena tidak membutuhkan kabel. Bahkan, telepon seluler ataupun laptop tidak lagi perlu di-charge.

Meskipun hidup akan sangat mudah jika teknologi ini diaplikasikan, teknologi ini tampaknya bisa disalahgunakan sebagai senjata yang mematikan. Lanjutkan membaca ‘Dua sisi listrik tanpa kabel’

LAGI PINDAHAN

•Rabu, 20 Agustus 2008 • Tinggalkan sebuah Komentar

Huah, lagi pindah rumah nih… lagi repot, jadi gak bisa post blog nih… vakum dulu ya beberapa lama… Maklum nih, pindah ke rumah yang sudah lama dibangun. Jadi, harus renovasi sana… renovasi sini…

IDENTITAS PEREMPUAN DALAM FILM MONA LISA SMILE DAN NORTH COUNTRY

•Senin, 4 Agustus 2008 • 2 Komentar

Oleh: Zhilal El-Furqaan

Multikulturalisme seringkali diidentikkan dengan masyarakat yang memiliki perbedaan budaya yang nyata seperti perbedaan warna kulit, suku, atau bangsa. Akan tetapi, Melani Budianta, dalam sebuah diskusi di kelas, mengatakan bahwa konsep multikulturalisme juga digunakan dalam sebuah komunitas yang monoetnis. Hal ini dikarenakan adanya perbedaan dalam setiap individu dalam komunitas monoetnis, bahkan konflik yang terjadi di dalamnya umumnya juga terjadi dalam masyarakat multietnis walaupun dengan tingkatan yang berbeda. Beranjak dari pandangan tersebut, esai ini membahas isu identitas, yang sering menjadi perbincangan dalam multikulturalisme, yang terjadi dalam masyarakat monoetnis kulit putih di Amerika Serikat. Lanjutkan membaca ‘IDENTITAS PEREMPUAN DALAM FILM MONA LISA SMILE DAN NORTH COUNTRY’

Waspadai Jajan Sembarangan!

•Kamis, 31 Juli 2008 • Tinggalkan sebuah Komentar

Anak usia sekolah rentan terinfeksi Entamoeba Hystolytica. Begitulah judul artikel kesehatan di Kompas edisi hari ini, Kamis 31 Juli 2008. Dalam artikel tersebut dikatakan infeksi parasit yang menyebabkan diare tersebut lebih rentan menginfeksi anak usia sekolah dibanding usia prasekolah karena kebiasaan jajan pada anak usia sekolah yang lebih tinggi.

”Satu penelitian menemukan, pada 97 persen penjaja makanan di pinggir jalan ditemukan satu atau lebih jenis parasit. E. hystolytica ditemukan pada 72 persen penjaja, Ascaris lumbricoides ditemukan pada 54 persen penjaja,” kata Rini saat mempertahankan disertasinya untuk memperoleh gelar doktor dalam Bidang Ilmu Kedokteran pada Universitas Indonesia di Jakarta, Selasa (29/7). (Kompas, 31 Juli 2008, hal. 13) Lanjutkan membaca ‘Waspadai Jajan Sembarangan!’

Tips Membersihkan Monitor LCD

•Minggu, 27 Juli 2008 • 12 Komentar

Banyak teman saya yang memiliki Laptop selalu mengeluh tentang LCD monitornya yang sering berdebu dan terdapat goresan. Ketika saya melihat cara mereka membersihkannya, saya melihat kebanyakan teman saya menggunakan cara yang salah dalam membersihkan monitor LCD-nya. Perlu diketahui, monitor LCD sangat berbeda dengan monitor CRT (monitor tabung biasa) sehingga cara membersihkannya juga berbeda dari cara membersihkan monitor CRT. Hal yang membuat LCD dan CRT sangat berbeda adalah LCD tidak dibuat dari kaca seperti CRT. LCD terbuat dari lapisan film yang mudah tergores, berdebu, dan kotor. Orang biasanya hanya membersihkan monitor LCD dengan air ledeng dan tisu/lap biasa seperti membersihkan kaca/monitor CRT. Akan tetapi, hal ini SALAH! Air ledeng biasanya mengandung Klorida yang bisa meninggalkan residu di layar LCD, sedangkan sembarang lap/tisu bisa menggores layar LCD yang sensitif. Lanjutkan membaca ‘Tips Membersihkan Monitor LCD’

Jajanan Pinggir Jalan Mengandung Timbal

•Kamis, 24 Juli 2008 • 6 Komentar

Makan di pinggir jalan ternyata memang berbahaya. Salah satu hasil penelitian mahasiswa FKM USU berikut ini membuktikan terdapat kandungan timbal dalam jajanan pinggir jalan. Hal ini disebabkan karena polusi yang berasal dari asap kendaraan bermotor yang menjatuhi makanan yang dijual di pinggir jalan. Laporan ini saya dapatkan dari Kompas.com. Berikut ini saya salinkan artikel yang saya baca tersebut: Lanjutkan membaca ‘Jajanan Pinggir Jalan Mengandung Timbal’

HP di penjara? Biasa ah…

•Minggu, 20 Juli 2008 • 4 Komentar

Kasus Artalyta Suryani dan Urip Tri Gunawan masih hangat dibicarakan, terlebih lagi setelah terbukanya percakapan telepon mereka berdua sementara mereka sudah berada di hotel prodeo. Satu bahan perbincangan yang mencuat dari kasus itu adalah bagaimana mungkin seseorang yang berada di penjara, yang seharusnya terisolasi dari dunia luar, bisa memegang telepon seluler? Bantahan segera keluar dari Bareskrim POLRI dan manta kepala rutan Bareskrim Polri tempat Artalyta ditahan (Kompas, 18 Juli 2008). Tapi, apa benar mungkin seorang tahanan memegang telepon seluler? Pertanyaan tersebut akan saya jawab melalui pengalaman saya berikut. Lanjutkan membaca ‘HP di penjara? Biasa ah…’