Kira-kira beginilah pikiran saya tentang UU Porno(grafi)

UU Porno(grafi). Mengapa ada dalam kurungnya? simpel saja, karena bagi saya, UU itu isinya dibuat oleh orang-orang yang isi kepalanya PORNO. Contohnya, bagaimana seseorang bisa menganggap sesuatu “terkesan telanjang” kalau ia tidak membayangkan hal tersebut telanjang. Misalnya, jika saya melihat seseorang dibalik layar putih yang tersorot lampu sehingga melihatkan bayangan lekuk tubuhnya. Jika saya tidak membayangkan ia sedang telanjang, saya tidak akan berpikir bahwa bayangan itu mengesankan ia telanjang. Lalu, UU ini berat ke perempuan (hal ini mengingat kultur mayoritas masyarakat Indonesia yang patriarkis dan sangat tendensius). Contohnya, saat melihat seorang laki-laki bertelanjang dada, mayoritas masyarakat menganggap wajar dan tidak menganggap itu mengesankan ketelanjangan. Akan tetapi jika perempuan menggunakan tanktop, maka banyak yang menganggap ia terlalu seksi dan terlalu vulgar. Bahkan menganggapnya “telanjang” (contohnya ibu saya yang melihat aktris hollywood berbikini berkomentar “duh, kok cewek-cewek sekarang bangga ya telanjang”). Untuk lebih memperjelas sikap saya tentang UU Pornografi, berikut saya sertakan tulisan teman saya yang pikirannya sama dengan saya: Baca lebih lanjut

Siapa yang Beradab?

Rabu malam yang lalu, sebuah acara debat di televisi membahas tentang RUU APP yang menghadirkan anggota PANSUS RUU APP anti dengan RUU APP yang sedang digodok sekarang dan Anggota DPR serta ORMAS Islam yang pro dengan RUU yang sekarang. Beberapa saat kemudian, perdebatan memanas dan kubu yang anti-RUU APP mengatakan bahwa RUU yang sedang digodok sekarang ini akan mengkategorikan orang Papua sebagai pelaku pornografi dan bisa dikenakan sanksi. Sedangkan pembelaan dari kubu yang pro dengan RUU APP berkata, dengan bahwa seharusnya ‘kita’ membawa peradaban dan memberikan mereka baju. Dalam benak saya kemudian timbul pertanyaan, “Apakah memang orang Papua tidak beradab?” Kemudian, segera saja, jawaban yang sangat sederhana muncul, “Mereka adalah orang yang beradab”. Baca lebih lanjut

Cacar, Puasa, FPI

Sejak puasa hari ke dua, saya terkena cacar air. Oleh karena itu, terpaksa saya harus membatalkan puasa atas saran dokter karena obat yang saya minum harus lima kali sehari dan teratur setiap empat jam. Saat itu saya berobat ke dokter di klinik di kampus saya, UI. Karena obat yang saya minum harus setelah makan, maka saya segera mencari makan. Tetapi, ternyata kantin terdekat (kantin FKM)tutup. Kemudian, saya mencari makanan di FASILKOM, ternyata kantinnya juga tutup. Akhirnya saya ke FIB, dan untungnya kantin FIB buka sehingga saya bisa makan siang dan minum obat. Dari pengalaman saya ini, saya teringat dengan penutupan paksa warung-warung makan yang buka siang hari di beberapa tempat. Dalam kepala saya, saya berkata “Ternyata, sangat banyak orang picik dan egois yang mengatasnamakan agama yang saya hormati”. Orang-orang picik itu adalah mereka yang merusak dan merazia tempat makan yang buka saat puasa. Baca lebih lanjut

Dua sisi listrik tanpa kabel

Dalam Koran Tempo tanggal 25 Agustus 2008, terdapat sebuah artikel yang menarik tentang listrik tanpa kabel. Dalam artikel tersebut, dijelaskan bahwa perkembangan teknologi terbaru telah memungkinkan perlengkapan listrik dapat menyala tanpa menggunakan kabel. Hal ini bisa dilakukan menggunakan bukan tanpa listrik, akan tetapi listrik tidak melalui kabel, melainkan melompat dari kumparan yang akan menghasilkan medan elektromagnet yang berfungsi sebagai pemancar. Kemudian, dari kumparan pemancar tersebut akan memancarkan frekwensi tertentu yang kemudian akan beresonansi dengan kumparan penerima. melalui resonansi tersebutlah listrik melompat dari kumparan pemancar ke kumparan penerima. Meskipun sudah pernah diujicobakan, teknologi ini belum bisa diaplikasikan karena masih membutuhkan lebih banyak penelitian. Jika sudah diaplikasikan, maka perangkat-perangkat elektronik bisa sangat mobile karena tidak membutuhkan kabel. Bahkan, telepon seluler ataupun laptop tidak lagi perlu di-charge.

Meskipun hidup akan sangat mudah jika teknologi ini diaplikasikan, teknologi ini tampaknya bisa disalahgunakan sebagai senjata yang mematikan. Baca lebih lanjut

IDENTITAS PEREMPUAN DALAM FILM MONA LISA SMILE DAN NORTH COUNTRY

Oleh: Zhilal El-Furqaan

Multikulturalisme seringkali diidentikkan dengan masyarakat yang memiliki perbedaan budaya yang nyata seperti perbedaan warna kulit, suku, atau bangsa. Akan tetapi, Melani Budianta, dalam sebuah diskusi di kelas, mengatakan bahwa konsep multikulturalisme juga digunakan dalam sebuah komunitas yang monoetnis. Hal ini dikarenakan adanya perbedaan dalam setiap individu dalam komunitas monoetnis, bahkan konflik yang terjadi di dalamnya umumnya juga terjadi dalam masyarakat multietnis walaupun dengan tingkatan yang berbeda. Beranjak dari pandangan tersebut, esai ini membahas isu identitas, yang sering menjadi perbincangan dalam multikulturalisme, yang terjadi dalam masyarakat monoetnis kulit putih di Amerika Serikat. Baca lebih lanjut

Waspadai Jajan Sembarangan!

Anak usia sekolah rentan terinfeksi Entamoeba Hystolytica. Begitulah judul artikel kesehatan di Kompas edisi hari ini, Kamis 31 Juli 2008. Dalam artikel tersebut dikatakan infeksi parasit yang menyebabkan diare tersebut lebih rentan menginfeksi anak usia sekolah dibanding usia prasekolah karena kebiasaan jajan pada anak usia sekolah yang lebih tinggi.

”Satu penelitian menemukan, pada 97 persen penjaja makanan di pinggir jalan ditemukan satu atau lebih jenis parasit. E. hystolytica ditemukan pada 72 persen penjaja, Ascaris lumbricoides ditemukan pada 54 persen penjaja,” kata Rini saat mempertahankan disertasinya untuk memperoleh gelar doktor dalam Bidang Ilmu Kedokteran pada Universitas Indonesia di Jakarta, Selasa (29/7). (Kompas, 31 Juli 2008, hal. 13) Baca lebih lanjut