BAHASA HIBRIDA INDOARAB SEBAGAI IDENTITAS DI KALANGAN AKTIFIS DAKWAH KAMPUS

Oleh: Zhilal El-Furqaan (Mahasiswa Sastra Inggris UI)

“X: Afwan, Ji, ane harus syuro nih di fakultas, jadi antum tolong dong gantiin ane buat syuro sama akhwat.

Y: Oh, ya udah. Insya Allah ane nanti bisa. Tapi antum jangan lupa SMS-in akhwatnya ya buat kasih tau ane gantiin antum.

X: Iya nanti ane SMS ke ukhti Nia deh. Syukron ya, Ji!”

Bahasa merupakan sebuah instrumen budaya yang sangat dinamis dan terus berkembang. Perkembangan bahasa, dalam hal ini bahasa Indonesia, bahkan sampai ke tingkat munculnya ragam bahasa baru yang mencampuradukkan bahasa Indonesia dengan bahasa Asing, diantaranya adalah bahasa Indoarab yang mencampurkan bahasa Indonesia dengan bahasa Arab. Contoh dari penggunaan bahasa Indoarab adalah percakapan di awal tulisan ini yang saya dengar beberapa waktu lalu di lingkungan masjid UI. Penggunaan bahasa Indoarab di kalangan mahasiswa telah menjadi sebuah penanda identitas komunitas yang menggunakannya, yaitu komunitas mahasiswa yang dikenal dengan Aktivis Dakwah Kampus (ADK). Esai ini selanjutnya akan menguraikan tentang penggunaan bahasa Indoarab sebagai sebuah identitas bagi ADK dan bagaimana identitas ini dimaknai oleh ADK dan mahasiswa bukan ADK.

Sebelum mendeskripsikan penggunaan bahasa Indoarab sebagai identitas ADK, saya akan menjelaskan terlebih dahulu dengan apa yang dimaksud dengan ADK. Aktifis dakwah kampus merupakan mahasiswa yang berperan aktif dalam Lembaga Dakwah Kampus. Lembaga Dakwah Kampus merupakan sebuah organisasi yang berdasarkan islam dan memiliki tujuan untuk mencapai kebangkitan Islam (Tim Penyusun SPMN, 2004:25).

Aktifitas dakwah kampus sendiri berdasarkan pada gerakan Tarbiyah yang bersumber pada gerakan Ikhwanul Muslimin yang terjadi di Mesir. Ikhwanul Muslimin masuk ke Indonesia pada tahun 1980-an oleh Mahasiswa Indonesia yang belajar di Mesir. Gerakan ini merupakan gerakan fundamentalisme Islam yang bercita-cita mengembalikan Islam kepada kejayaannya pada masa Ottoman Turki dan mengembalikan ajaran Islam kepada kemurniannya. Gerakan ini masuk melalui kampus ITB dan UI dan dilakukan secara “sembunyi-sembunyi” melalui diskusi dalam kelompok-kelompok kecil yang lebih dikenal sebagai liqo yang dipimpin oleh seorang mentor yang disebut dengan murobbi. Satu liqo beranggotakan 5 sampai 12 orang. Gerakan Tarbiyah ini kemudian mulai membuka tirainya ke publik setelah turunnya rezim Suharto. Bahkan gerakan ini masuk ke wilayah politik praktis melalui Partai keadilan yang kemudian berubah menjadi Partai Keadilan Sejahtera.

Sebagaimana telah saya nyatakan sebelumnya, ADK menggunakan bahasa Indoarab sebagai salah satu penanda identitas mereka. Bahasa Indoarab merupakan bahasa hibrida dengan Bahasa Indonesia sebagai bahasa akarnya yang kemudian ditempeli dengan kosakata Arab dalam kalimat-kalimatnya. Bahasa Indonesia sebagai bahasa akar dapat diidentifikasi dengan menggunakan pendekatan sinkronis dalam struktur yang terdapat bahasa Indoarab. Secara morfologis, proses pembentukan kata dalam bahasa Indoarab mengikuti sistem morfologi bahasa Indonesia sehingga penggunaan kosakata Arab dalam bahasa ini hanya seperti ‘tempelan’ yang menggantikan kosakata asli Indonesia dalam bahasa Indonesia. Sebagai contoh, dalam kalimat yang saya dengar dari seorang penutur bahasa Indoarab dalam sebuah pertemuan berikut, “. . . sebelumnya, ane boleh tahu, nggak, kenapa antum-antum pada mau ikutan FORMASI?” Bentuk pengulangan kata sebagai bentuk jamak, dalam contoh ini antum-antum hanya terdapat di morfologi Bahasa Indonesia, sedangkan dalam Bahasa Arab, bentuk jamak dapat dibentuk dengan manambah akhir kata dengan –um. Kata antum seharusnya sudah dalam bentuk jamak karena kata dasarnya sebenarnya adalah anta yang berarti anda.

Dari analisis struktural tersebut, bisa dilihat bahwa bahasa Indoarab merupakan parole dari langue Bahasa Indonesia. Okke K.S. Zaiman dalam menjelaskan strukturalisme yang dikembangkan oleh Ferdinand de Sausurre mengatakan,

langue adalah keseluruhan kekayaan bahasa, yang telah merupakan konvensi dan menjadi milik masyarakat, sedangkan parole adalah keseluruhan yang diujarkan individu, termasuk segala kekhasan da;a, ucapan dan pilihan struktur yang digunakan.” (Zaiman, 2002:18)

Dengan demikian, langue merupakan sebuah sistem, sebuah induk dengan parole sebagai unsurnya. Dengan demikian, sistem Bahasa Indonesia bisa dikatakan sebagai bahasa induk, bahasa dominan, atau bahasa akar dari bahasa Indoarab. Sebaliknya, bahasa Indoarab hanyalah salah satu ragam dalam Bahasa Indonesia yang dapat disejajarkan dengan ragam Bahasa Indonesia lainnya seperti ragam bahasa pergaulan Jakarta.

Asal-usul penciptaan bahasa Indoarab sebagai identitas oleh ADK tidak ada secara jelas tetapi menurut beberapa ADK yang saya wawancarai ada kemungkinan awal berkembangnya bahasa ini adalah dari mahasiswa Indonesia yang kuliah di Mesir dan membawa Tarbiyah ke Indonesia pada sekitar tahun 1980-an. Selanjutnya, bahasa ini dikenalkan kepada ADK-ADK lainnya melalui liqo-liqo.

Bila ditinjau dari sisi sejarah, asal-usul tersebut dapat kita analisis dengan pendekatan poskolonialisme. Pada rezim Suharto, kelompok agamis mengalami opresi yang sangat kuat. Mereka dilarang menunjukkan atribut yang berkaitan dengan identitas agama, seperti dilarang untuk mengenakan jilbab. Kemudian untuk meresistensi opresi terhadap identitas keagamaan tersebut, para pelopor Tarbiyah ini kemudian menyebarkan identitas keagamaan yang baru dalam bentuk bahasa Indoarab. Bahasa ini digunakan sebagai simbol perlawanan atas Bahasa Indonesia dengan Ejaan yang Disempurnakan yang merupakan simbol feodalisme Orde Baru. Bahasa Indonesia digunakan sebagai alat politik untuk menciptakan kesan positif atas opresi yang dilakukan oleh pemerintah seperti penggunaan kata diamankan untuk menggantikan penangkapan (Manurung, 2008) atau frasa “pengendalian masyarakat” digunakan untuk tindak keras pemerintah atas demonstrasi, seperti yang terjadi di Tanjung Priok. Apa yang terjadi ini sesuai dengan teori poskolonialisme yang disampaikan oleh Edward Said sebagaimana dijelaskan oleh Melani Budianta berikut,

“Representasi terhadap kelompok marjinal oleh wacana yang dominan, dilihat sebagai praktek dominasi yang menggunaka bahasa sebagai alat kekuasaan. Dengan menampilkan kelompok marjinal secara negatif, wacana dominan mengukuhkan kekuasaannya, atau memberikan pembenaran bagi dominasinya.” (Budianta, 2002:51)

Atas adanya pembenaran atas dominasi Orde Baru tersebut, kemudian bahasa Indoarab ini digunakan menggantikan Bahasa Indonesia yang baik dan benar sebagai bentuk resistensi sebagaimana yang disampaikan Melani Budianta, “. . . gejala percampuran bahasa sebagai alat resistensi terhadap budaya dan bahasa dominan.” (Budianta, 2007:15)

Sedangkan alasan para ADK sekarang menggunakan bahasa ini sebagai identitas terbagi menjadi dua. Alasan pertama adalah karena terbawa oleh lingkungan. Lembaga Dakwah Kampus sebagai lingkungan ADK yang sudah menggunakan bahasa Indoarab mempengaruhi ADK yang baru mengikuti lembaga tersebut. Bagaimana identitas seperti ini terbentuk bersesuaian dengan pendekatan konstruksi sosial terhadap identitas,

“Kita dilabeli dan melabeli diri kita bergantung dari bagaimana lingkungan melihat kita, bagaimana kita melihat lingkungan, bagaimana kita memperlakukan orang lain, dan bagaimana orang lain bereaksi terhadap kita bukan hanya sebagai individu, melainkan juga dalam pranata sosial seperti keluarga, tempat kerja, dan sekolah.” (Giles dan Middleton, 1999:37 [terjemahan saya])

Dari uraian Giles bisa kita dapatkan bahwa cara identitas bahasa Indoarab terinternalisasi oleh ADK terbentuk dari bagaimana dirinya dan lingkungannya saling mempengaruhi. Begitu seorang mahasiswa menginternalisasi identitas sebagai Aktifis Dakwah Kampus, maka ia juga menginternalisasi penggunaan bahasa bahasa Indoarab sebagai bahasa pergaulannya secara tidak sadar maupun sadar.

Dalam hal ini ADK dalam proses internalisasi bahasa Indoarab telah menjadi subjek dan di saat yang sama ia tersubjekkan untuk menggunakan bahasa yang sesuai dengan lingkungan Lembaga Dakwah Kampus sebagai lingkungannya. Proses interpelasi/internalisasi bahasa Indoarab terhadap dirinya dikarenakan perasaan aman dan menjadi bagian dari proses internalisasinya sebagai sebuah subjek bernama Aktifis Dakwah Kampus. Seperti dikatakan Louis Althusser sebagaimana disarikan oleh Judy Giles dan Tim Middleton,

we ‘recognize’ ourselves in the subject positions we are invited to occupy and may experience a sense of (illusory) security and belonging in the process of interpellation into a specific subject position.” (ibid., 202)

Alasan kedua seorang ADK menggunakan bahasa Indoarab merupakan alasan yang ideologis. Penggunaan bahasa Indoarab digunakan dengan alasan bahwa penggunaan bahasa seperti ini digunakan untuk membiasakan diri dengan Bahasa Arab. Pembiasaan ini dianggap perlu karena bahasa yang digunakan Al-Quran adalah Bahasa Arab dan mempelajari dan mengerti isi Al-Quran adalah suatu kewajiban. Sehingga, untuk bisa mengerti isi Al-Quran ADK harus bisa berbahasa Arab. Langkah awalnya adalah membiasakan diri menggunakan bahasa Arab (Ian, 2006). Atau dengan kata lain penggunaan bahasa Indoarab untuk dapat memahami Al-Quran.

Penggunaan identitas, jika mengacu kembali kepada pendekatan konstruksi sosial yang disampaikan oleh Giles dan Middleton sebelumnya, tidak terlepas dari interaksi sosial dan bagaimana individu menyubjekkan/memposisikan identitasnya dalam lingkungan sosial. Dari hasil wawancara saya dengan Mawan dan Nina, keduanya merupakan ADK, mereka memposisikan bahasa Indoarab sebagai bahasa pergaulan yang sopan dan santun. Hal ini yang menurut mereka membuat bahasa Indoarab ini berbeda dengan bahasa pergaulan lainnya, seperti bahasa pergaulan Jakarta. Menurut mereka, bahasa pergaulan Jakarta, yang ditandai dengan menggunakan lu dan gue, dianggap kasar meskipun tidak satupun dari mereka mampu menjelaskan mengapa bahasa pergaulan ini terasa kasar. Menurut mereka, bahasa Indoarab hanya mereka gunakan dalam lingkungan sesama ADK. Sedangkan dalam berinteraksi dengan orang di luar lingkungan sesama LDK, mereka cenderung menggunakan ragam Bahasa Indonesia semiformal.

Yang unik adalah Mawan masih menggunakan lu dan gue kepada teman-temannya di luar lingkungan ADK yang ia anggap ‘tidak benar’. Ketika saya tanyakan seperti apa yang dianggap dengan ‘tidak benar’, Marwan menjelaskan bahwa yang dia maksud dengan ‘tidak benar’ adalah mereka yang tidak ‘menjaga diri’ seperti masih bersentuhan laki-laki dengan perempuan, ibadah masih bolong-bolong, masih pacaran, dan hal sejenisnya. Bahkan ia menambahkan, untuk perempuan yang tidak memakai pakaian yang tertutup dan tertawa terbahak-bahak juga termasuk ‘tidak benar’.

Dari yang dikatakan Mawan tersebut, saya mendapat asumsi bagaimana ADK memposisikan bahasa Indoarab terhadap bahasa pergaulan Jakarta. Posisi bahasa Indoarab dianggap superior dibandingkan dengan bahasa pergaulan Jakarta. Asumsi ini mendapatkan justifikasi ketika saya menanyakan tentang hal serupa kepada Nina dan melakukan survey kepada lima orang ADK lainnya. Menurut Nina, proses alih kode dari bahasa gaul Jakarta ke bahasa Indoarab dapat diibaratkan seperti berhijrah dari masa jahiliyah ke masa fitrah, atau dari masa kebodohan atau kemaksiatan ke masa yang penuh ketenteraman. Dengan demikian, pengguna bahasa pergaulan Jakarta secara implisit diidentikkan dengan kebodohan dan kemaksiatan. Bahkan Mawan sempat mengutarakan “kalau lu-gue kasar. Di FORMASI [Nama sebuah Lembaga Dakwah Kampus—penulis.] kan sudah kental agama Islamnya, nggak ada lu-gue, kita pakai bahasa yang sopan.”

Peminggiran ini juga dapat dilihat dari beberapa kata dalam bahasa Indoarab tetapi mendapat nilai rasa yang berbeda oleh penutur bahasa Indoarab dibandingkan bahasa pergaulan Jakarta dengan arti yang sama seperti dalam tabel berikut:

Indoarab

Gaul Jakarta

Makna

Nilai rasa

ane gue saya ane = halus
gue = kasar
antum lu anda antum = halus
lu = kasar
ikhwan cowok laki-laki ikhwan = sudah mendapat hidayah, rajin ibadah, ADK
cowok = belum mendapat hidayah, ibadah bolong-bolong, masih jahil (bodoh)
akhowat cewek perempuan akhowat = sudah mendapat hidayah, rajin ibadah, ADK
cewek = belum mendapat hidayah, ibadah bolong-bolong, masih jahil (bodoh)

Tabel 1: Perbedaan nilai rasa dalam beberapa kata yang bermakna sama dalam bahasa Indoarab dan bahasa pergaulan Jakarta

Hal ini merupakan ironi jika melihat uraian saya sebelumnya mengenai awal penggunaan bahasa Indoarab yang merupakan wujud resistensi terhadap opresi Orde Baru yang disimbolkan dengan Bahasa Indonesia yang baik dan benar atas identitas keagamaan. Jika demikian pada awal pembentukannya, ternyata sekarang ini penggunaan bahasa ini justru melakukan peminggiran atas suatu bahasa, atas suatu budaya.

Selain memposisikan, sebuah identitas juga diposisikan. Bahasa Indoarab tidak lepas dari pemosisian yang dilakukan oleh orang-orang non-ADK. Oleh Pusat Bahasa, percampuran bahasa dianggap buruk karena dianggap melemahkan posisi Bahasa Indonesia sebagai bahasa nasional (Kurniantoro, 2005). Hal senada juga diucapkan oleh Metha, seorang mahasiswa Program Studi Indonesia UI. Sedangkan menurut Diah, mahasiswa Program Studi Arab, percampuran bahasa Arab di Bahasa Indonesia seperti yang dilakukan oleh ADK oke-oke saja selama penggunaannya tepat. Penggunaan yang tepat di sini adalah menggunakan kata dalam bahasa Arab dengan makna yang tepat dan digunakan hanya untuk sesama ADK, bukan dengan masyarakat luas. Hal ini diucapkan Diah karena sering terdapat makna yang berbeda dari bahasa Arab seperti antum yang seharusnya digunakan untuk orang kedua jamak, menjadi tunggal. Juga, Diah menambahkan, ia pernah menemukan ada ADK pengguna Indoarab yang menggunakan bahasa tersebut di publik sehingga publik pun tidak mengerti apa yang dimaksud orang itu. Bahkan, ADK tersebut dikatai oleh teman Diah sebagai ‘gaya-gayaan’ karena tidak sesuai tempatnya.

Dari pembahasan saya tentang pemakaian bahasa Indoarab tersebut bisa disimpulkan bahwa bahasa dapat digunakan sebagai penanda identitas bagi seseorang. Proses penggunaan bahasa sebagai bahasa campur bisa menjadi sebuah bentuk resistensi atas opresi yang dilakukan oleh kuasa. Selain itu, proses penggunaan bahasa sebagai bentuk identitas dapat digunakan untuk memposisikan identitas yang diwakilinya di atas suatu kelompok identitas lainnya seperti peminggiran yang dilakukan ADK terhadap pengguna bahasa pergaulan Jakarta. Dan juga, identitas merupakan sebuah bentukan sosial yang terbentuk dari bagaimana seorang individu berinteraksi dengan lingkungannya, dari bagaimana ia memosisikan dan diposisikan.

Referensi:

Budianta, Melani. 2007. “Aspek Lintas Budaya dalam Wacana Multikultural”. (Naskah untuk Seminar Kajian Wacana dalam Konteks Multikultural dan Perspektif Multidisiplin)

Budianta, Melani. 2002. “Teori Sastra Sesudah Strukturalisme: Dari Studi Teks ke Studi Wacana Budaya”. (Handout, tidak ada data publikasi)

El-Furqaan, Zhilal. “Pemikiran Islam Kontemporer di Indonesia”. (Makalah, tidak dipublikasikan)

Giles, Judy and Tim Middleton. 1999. Studying Cultur: A Practical Introduction. Oxford: Blackwell Publishers

Ian, Pa. 2006. “Kenapa Ber-ane-antum?”. http://www.mii.fmipa.ugm.ac.id/new/2006/12/06/kenapa-ber-ane-antum/ (diunduh tanggal 7 Juni 2008)

Kurniantoro, Y.C. 21 Oktober 2005. “Bahasa Campur Aduk”. Suara Pembaruan

Zaimar, K.S. 2002. “Strukturalisme”. (Handout, tidak ada data publikasi)

11 comments on “BAHASA HIBRIDA INDOARAB SEBAGAI IDENTITAS DI KALANGAN AKTIFIS DAKWAH KAMPUS

  1. duniabaruku mengatakan:

    Ha..ha..ha…
    Yang ane atau antum and sejenisnya kali aja lagi belajar…belajar berbahasa arab yang baik dan benar sesuai ejaan yang disempurnakan. Hiks..hiks…

  2. akusendiri mengatakan:

    Huah, bagus juga nih artikel…

  3. faisol mengatakan:

    terima kasih sharing info/ilmunya…
    saya membuat tulisan tentang “Benarkah Kita Hamba Allah?”
    silakan berkunjung ke:

    http://achmadfaisol.blogspot.com/2008/09/benarkah-kita-hamba-allah-1-of-2.html
    (link di atas adalah tulisan ke-1 dr 2 buah link benarkah kita hamba Allah?)

    Apakah Allah juga mengakui bahwa kita adalah hamba-Nya?

    salam,
    achmad faisol
    http://achmadfaisol.blogspot.com/

  4. ??? mengatakan:

    Ahlan,
    Beberapa phrase Arabic sendiri berbeda di @ negara teluk Arab.
    dan jadi tambah unik (baca: ngawur) saat dibawa ke Tanah Air.
    Jadi berbahasa Indonesia yang baik dan benar ja.
    Setuju ?!!
    ^_^

  5. gntong mengatakan:

    Setuju. tapi meskipun berbeda di beberapa negara, perbedaannya tidak terlalu besar kan? bisa anda kasih contoh?

  6. alfi mengatakan:

    bahasannya bagus kok kak =). saya kopi yah buat referensi. tfs

  7. Furqaan mengatakan:

    bolehh, asal ditulis sumbernya ya… (gila publikasi nih…)

  8. dela anjelawati mengatakan:

    Aslmkm.bagus tulisannya.afwan,izin buat bahan skripsi.jzklh

  9. El Faḍl mengatakan:

    Ane comot data-nya gan… Tenang, sumber dicantumin koq…

    Buat tugas komunikasi (fenomenologi unik nih)😀

  10. republikapenerbit mengatakan:

    Assalamualaikum gan.. saya lagi penelitian yang berhubungan juga dengan komunitas Islam. Boleh saya minta refrensi lengkapnya? atau ada jurnal yang pernah agan publish mengenai bahasa hibrida ini? terimakasih

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s