Jajanan Pinggir Jalan Mengandung Timbal

Makan di pinggir jalan ternyata memang berbahaya. Salah satu hasil penelitian mahasiswa FKM USU berikut ini membuktikan terdapat kandungan timbal dalam jajanan pinggir jalan. Hal ini disebabkan karena polusi yang berasal dari asap kendaraan bermotor yang menjatuhi makanan yang dijual di pinggir jalan. Laporan ini saya dapatkan dari Kompas.com. Berikut ini saya salinkan artikel yang saya baca tersebut:

JAKARTA, SENIN – Hati-hati, kebiasaan jajan di pinggir jalan berisiko terpapar timbal meski kandungan timbal yang ada di dalamnya tidak melampaui nilai ambang batas yang ditetapkan oleh Dirjen Pengawasan Obat dan Makanan yaitu sebesar 2 ppm.

Demikian hasil penelitian dua mahasiswa Fakultas Kesehatan Masyarakat (FKM) Universitas Sumatera Utara (USU), Nuraisyah Betty Marbun dan Utamy Hidayatrissa, dalam babak final Pemilihan Peneliti Remaja Indonesia (PPRI) yang diselenggarakan oleh Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), di Depok, Senin (7/7).

Dari 12 sampel makanan yang diambil sebagai sampel, tidak ada satupun yang melebihi batas maksimum cemaran logam di dalam makanan itu. Salah satu kue yang menunjukkan angka tertinggi ternyata dijual di atas tampah tanpa penutup dan langsung dijual di pinggir jalan

Meski demikian, menurut Nuraisyah dan Utamy, hal itu harus tetap diwaspadai karena efek racunnya memang tidak segera terlihat. Efeknya akan terlihat beberapa tahun kemudian karena sifatnya yang akumulatif pada makhluk hidup. “Kurang lebih 5-10 persen akan diserap tubuh, 15 persen akan mengendap pada jaringan. Kalau itu tersimpan di tubuh, itu bisa menyebabkan gangguan pada syaraf pusat, insomnia dan menurunkan IQ,” ujar Nuraisyah kepada Kompas.com.

Banyak sekali rekomendasi dari Nuraisyah dan Utamy terkait makanan yang terpapar timbal ini. Mereka ingin, kesadaran mulai dari masyarakat untuk peduli dengan kesehatannya dengan tidak membiasakan jajan di pinggir jalan. Selain itu, mereka berharap para Pedagang Kaki Lima (PKL) yang berjualan mengatur jarak tempat jualannya dari jalan dan menggunakan stelling dan gorden penutup. Faktor penting lainnya yang mendorong kedua mahasiswa ini untuk melakukan penelitian ini tentu saja kondisi polusi di kotakota besar.

“Perlu juga ada UU batas pemakaian kendaraan bermotor dan di pingir jalan raya banyak ditanami pohon puring dan pohon asam. Itu efektif menyerap timbal,” ujar Amy.

Nah, jadi biar lebih sehat, lebih baik membawa bekal dari rumah karena selain terjamin kebersihannya, lebih murah juga… iya kan?

6 comments on “Jajanan Pinggir Jalan Mengandung Timbal

  1. orangutanz mengatakan:

    ADuh serem banget ya… Musti hati-hati milih jajanan nih sekarang…

    Hmmm…. Jam makan siang. Beli gorengan ah…

  2. gntong mengatakan:

    Awas, gorengannya digoreng pake plastik lho… hehehehe… Tapi iya, lapar… DI pinggir jalan kayaknya ada nasi goreng enak tuh…

  3. orangutanz mengatakan:

    ati-ati nasinya dicampur resin biar pulen loh…

    lah kita malah ceting disini?!

  4. bang ade mengatakan:

    Yah emang kalo ditilik dari sudut kesehatan emang para pedagang Q5 dalam merajik makanannya, tanpa melihat sudut pandang kesehatan,kalo bahasa kerennya ndak hgyiene , terkadang penjual nokrong di areal atas saluran pembuangan, wong gimana namanya nyari rezeki…( tapai malah enak loh)

  5. gntong mengatakan:

    Iya, memang gak bisa nyalahin mereka juga. cuma kita hati-hati saja lah… iya gak, bang ade? oh, ya, salam kenal ya…

  6. lucianancy mengatakan:

    ya ampun..trimakasih atas informasinya
    lagi blog walking nih😉

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s